Rabu, 28 November 2012

Resensi Cerpen

Judul : benderaku
Pengarang : Alfi laila khusnawati
Cerpen ini adalah sebuah karya dari seorang penulis bernama alfi laila khusnawati . Dia adalah guru bahasa indonesia SMU Apul ulun 3 pondok pesantren.

Tidak semua keberhasilan dan kemajuan memetik buah yang manis saat cita di gapai melalui pengorbanan yang tak terus berlanjut maka sia-sia adalah yang didapat.

Abu adalah namun pejuang angkatan 45. Dia sangat mencintai dan memberi perlakuan khusus bagai benda pusaka pada selembar bendera merah putih. Dia selalu mencuci benda itu dan menyimpannya ditempat serial dan dihari-hari bersejarah bendera itu selalu di kibarkan dihalaman rumah. Setiap tanggal 17 agustus abu selalu melaksanakan sholat dhuha dilanju sujud syukur setelah itu bendera didekap didadanya, mulutnya komat-kamit membaca do'a. Melihat tingkah abu yang dirasa aneh istri, anak dan adiknya mengira jiwanya terganggu kemudian menasehati abu. Akhirnya abu menjelaskan bahwa apa yang ia lakukannya itu sebagai wujud syukur kadrenc diberi kemerdekaan oleh allah sekaligus sebagai wujud penyesalan dan duka cita karena harus membunuh sesama untuk memperoleh kemerdekaan tersebut, setelah abu meninggal anaknya tidak memperlakukan spesial pada bendera peninggalan abu dan tidak mengibarkannya saat hari-hari berejas kecuali disuruh oleh ketua Rt dan lama kelamaan Rt bosan hingga pada akhirnya sang bendera hanya menjadi alas lemari.

Bahasa yang digunakan pengarang dalam cerpen ini sangat lugas, dan sederhana sehingga mudah di pahami.
Pertikaiaan antara pak abu dan anak istrinya ini dijadikan penulisnya untuk menggambarkan betapa langkanya jiwa nasionalisme di zaman modern ini. Orang yang berjiwa nasionalisme tinggi justru dianggap sinting dan apa yang di lakukan oleh anak pak abu benar-benar mencerminkan realita masa kini yaitu meremehkan bendera merah putih yang dilakukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat indonesian.

Dengan membaca cerpen ini kita akan menyadari betapa kita tidak menghargai besarnya pengorbanan rasa pahlawang yang merelakan nyawanya hanya untuk mengibarkan selembar lain yang kini hanya kita gunakan sebagai hiasan.

Namun sayangnya pengarang terlalu sederhana dalam menciptakan konfliknya sehingga kurang menguras emosi dan kurang terbawa dalam alur cerita cerpen tesebut. 

1 komentar:

  1. Terima kasih telah memberikan apresiasi pada cerpen saya. Sayangnya, saya justru tak memiliki buku antologi yang memuat cerpen tersebut. Bisakah memberi informasi kepada saya, di mana saya dapat membeli buku tersebut?

    BalasHapus